Pilih Mana, Kerja di Perusahaan Bonafide atau Bangun Startup?

Kerja di Perusahaan Bonafide atau Bangun Startup?

Lahir sebagai generasi milenial tentu harus siap dengan berbagai macam kondisi yang berbeda dengan apa yang ada beberapa dekade silam. Sebab, fenomena sehari-hari, mulai dari urusan sekolah, keluarga, karir, hingga yang paling remeh temeh seperti asmara, semua sudah sangat berbeda dengan masa dimana orangtua masih muda dulu.

Urusan sekolah misalnya, milenial dihadapkan pada dilematis antara memilih masuk sekolah unggulan yang diperkirakan punya masa depan cerah, atau sekolah kejuruan yang segera siap memasuki dunia kerja begitu sudah lulus.

Lalu soal keluarga. Ada nilai dan norma yang turut terimbas gencarnya arus informasi melalui internet dan mau tak mau berdampak pada gaya hidup serta pola perilaku kaum milenial pada umumnya.

Belum lagi soal karir. Berbagai persoalan juga menghampiri. Mulai dari padatnya kompetisi peluang kerja, sampai keinginan dan obsesi yang bisa saja menghampiri.

Beberapa milenial dengan obsesi untuk sukses dan kaya melalui jalur tekno punya pilihan untuk memulai startup atau usaha rintisan yang dikelola secara bertahap hingga mendapatkan peminat dan membuka pangsa pasar.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi makro dalam beberapa tahun belakangan yang semakin membaik juga memberikan dampak yang signifikan bagi para milenial untuk memilih bekerja sebagai karyawan di berbagai perusahaan.

Jadi sebenarnya mana yang lebih menguntungkan antara membangun startup atau kerja di perusahaan bonafide? Artikel kali ini coba memberikan ulasan fakta-fakta dibalik keduanya.

Fakta Tentang Membangun Startup dan Bekerja di Perusahaan Bonafide

Membangun karir apapun itu, sebenarnya bukanlah perkara mudah. Perlu pengetahuan serta kesungguhan dan kedisplinan diri agar bisa berhasil. Berikut ini adalah fakta tentang membangun stratup juga pengalaman bekerja di perusahaan bonafide nan mentereng yang diintisarikan dari berbagai sumber.

  1. Startup Menuntut Ketelatenan, Perusahaan Meminta Kesungguhan

Stratup memang mengubah dunia. Sebut saja raksasa teknologi seperti Facebook, atau Google sekalipun, di awal peluncurannya juga tak lebih dari startup atau garage company belaka.

Sementara yang menjadikan sebuah startup besar adalah konsistensi serta ketekunan dari founder startup itu sendiri sehingga mampu meyakinkan publik untuk loyal menggunakan hasil karyanya. Ini bukan hal yang gampang. Karena butuh dedikasi tingkat tinggi.

Bekerja sebagai pegawai perusahaan bonafide sepertinya “zona nyaman”. Gaji besar, fasilitas ada juga, tentu jadi privilige tersendiri. Tapi tentunya, perusahaan juga menuntut target tertentu dalam soal pencapaian dan tagihan kerja yang harus dipenuhi.

  1. Startup Perlu Modal, Karyawan Bertanggung Jawab Pada Modal

Dalam dunia kerja apapun perlu modal. Apalagi kalau mau masuk wilayah wirausaha atau entrepreneurship butuh modal yang kadang tak sedikit.

Modal utama tentu saja waktu dan pengetahuan yang mendalam pada bidang yang digeluti. Berikutnya tentu saja dalam bentuk uang, tak pasti berapa besaran modal untuk memulai sebuah startup yang kemudian sukses. Ada yang sedikit ada pula yang gila-gilaan. Modal startup tentu berasal dari kantong foundernya sendiri.

Jadi karyawan mungkin bisa jadi enak. Tapi jangan dipikir tak ada urusan dengan modal ataupun permodalan.

Baca Juga : Tips Menang Omaha Judi Poker Online Terpopuler

Sebuah perusahaan menjadi besar karena memang disuntik dengan modal. Salah satunya dari investor yang bisanya diaplikasikan melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

Direktur hingga jajaran staff sepenuhnya bertanggung jawab pada RUPS ini. Jadi jangan salah, kalau memang tak sesuai visi perusahaan bisa jadi ancaman PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) di depan mata.

  1. Startup Perlu Kesabaran, Perusahaan Butuh Ketegaran

Akan selalu ada halangan bagi setiap cita-cita. Termasuk mendirikan startup bergengsi yang disegani, butuh kesabaran. Startup tidak bisa langsung meledak seperti gojek atau bukalapak, dan disini konsistensi Anda diuji.

Begitupun bila memilih menjadi karyawan sebuah perusahan bonafide yang tentu butuh ketegaran, karena tak selamanya interaksi dengan kolega akan berjalan tanpa adanya miskomunikasi maupun gegar kebiasaan lainnya.

Itulah tadi fakta tentang membangun stratup maupun bekerja di perusahaan bergengsi. Semua tentu kembali kepada pilihan masing-masing, sebab yang paling penting, bekerja apapun asal mendukung pengembangan diri serta memberikan dampak positif bagi masyarakat adalah mulia adanya.

Author: admin