Kekerasan Seksual yang Pernah Terjadi di berbagai Kampus Indonesia

Kekerasan Seksual

Dunia pendidikan Indonesia kembali diguncang dengan kasus kekerasan seksual yang banyak terjadi di Perguruan-perguruan Tinggi tanah air. Kasus terbaru menimpa seorang mahasiswi yang saat ini masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Sumatera Utara.

Kekerasan seksual itu sendiri dilakukan oleh seorang dosen pada awal tahun 2018 lalu. Ironisnya pelecehan ini terjadi saat korban dan pelaku sedang dalam perjalanan untuk melakukan survei lokasi untuk sebuah penelitian.

Hal yang lebih mengejutkan, melalui gerakan #NamaBaikKampus yang dicetus oleh beberapa media kenamaan, terdapat setidaknya 174 penyintas kekerasan seksual di kampus-kampus yang tersebar diseluruh Indonesia.

Adanya ketimpangan relasi kuasa masih menjadi kendala yang besar yang menjadikan banyaknya kekerasan seksual tidak hanya terjadi, tetapi juga tidak menempuh jalur hukum.

Budaya menyalahkan korban juga masih menjadi momok yang semakin memojokkan penyintas dan menguntungkan pelaku.

Melalui formulir online yang bersifat anonimlah yang akhirnya berhasil membujuk beberapa penyintas untuk angkat suara.

Kesaksian-kesaksian ini kemudian menunjukkan bagaimana kekerasan seksual di kampus sebenarnya sangat masif, namun sayangnya sangat jarang tersentuh hukum, dan lebih sering berakhir sebagai desas-desus belaka.

Hasil Data Formulir Online yang Disebarkan

Berdasarkan hasil data yang terekam melalui formulir online, ditemukan 174 kasus kekerasa seksual yang terjadi dalam ruang lingkup perguruan tinggi. Baik itu terjadi di kampus, dilakukan oleh warga kampus, hingga kegiatan diluar kampus yang melibatkan warga kampus lainnya.

Dari keseluruhan 174 kasus 88 persen penyintas yang memberikan testimoni berasal dari Pulau Jawa. Kota Yogyakarta dan Semarang menjadi kota dengan laporan kasus kekerasan seksual terbanyak. Sisanya tersebar di 27 kota lainnya yang terjadi di 79 perguruan tinggi berbeda.

Lihat Juga : Informasi Dasar Sebelum Mulai Main Poker Android!

Hal lain yang cukup mengejutkan adalah penyintas tidak hanya berasal dari kaum perempuan. Sebanyak 7 penyintas laki-laki juga memberikan testimoni terkait kekerasan seksual yang mereka alami dalam lingkungan kampus.

Pelaku kekerasan pun beragam, mulai dari sesama mahasiswa, dosen, karyawan, dokter klinik universitas, hingga warga di daerah KKN.

Sebanyak 13 penyintas mengaku menjadi korban permerkosaan, 129 orang tercatat sebagai korban pelecehan seksual, dan 30 orang mendapatkan intimidasi seksual. Hal yang cukup menyedihkan adalah hanya 20 persen dari total penyintas yang memberikan testimoni berani membawa kasususnya ke jalur hukum.

Kendala dalam Mengatasi Kekerasan Seksual di Kampus

Survey yang dilakukan oleh Lentera Sintas Indonesia pada tahun 2016 menunjukkan bahwa 93 persen penyintas tidak melaporkan kekerasan seksual yang mereka alami. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak kendala yang membuat mata rantai kekerasan seksual di kampus sulit diputuskan.

Beberapa alasan yang menjadikan penyintas takut membawa kejalur hukum adalah karena rasa takut dan tidak ada dukungan dari pihak lain. Mulai dari pelaku yang lebih berkuasa hingga orang-orang sekitar yang masih cenderung melakukan victim blaming.

Hal ini membuat penyintas menjadi takut untuk bersuara, apalagi untuk membawanya ke jalur hukum.

Anggapan negatif juga sering disematkan kepada para penyintas, mulai dari menyebut mereka juga turut andil dalam terjadinya kekerasan, mempertanyakan cerita mereka, hingga menganggap korban kekerasan seksual sebagai sebuah aib.

Belum lagi kurangnya bukti sering menjadi moko bagi penyintas untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Banyak penyintas akhirnya merasa dirugikan jika harus angkat bicara melawan pelaku kekerasan yang seharusnya mendapat hukuman.

Kendala lainnya adalah kurangnya perhatian kampus, atau pada beberapa kasus pihak Universitas justru cenderung menutupi. Pihak kampus kerap kali mengelak dikaitkan dengan kasus kekerasan seksual hal ini terlihat dari banyaknya kasus yang diselesaikan melalui alur internal tanpa melibatkan proses hukum yang semestinya.

Author: admin