Kasus Pelanggaran HAM Paling Banyak Menyita Perhatian

Pelanggaran HAM

Pelanggaran HAM sampai saat ini masih menjadi isu yang diperhatikan oleh dunia. Namun, meskipun menjadi perhatian dunia bukan berarti penyelasaian kasus pelanggaran HAM berlangsung cepat dan adil. Sebagian dari kasus HAM bahkan tidak terselesaikan sampai puluhan tahun lamanya.

Para keluarga korban sudah bersuara, para penuntut keadilan sudah melakukan berbagai upaya untuk bertemu petinggi negeri. Tapi sayang, nyawa keluarga dan kerabat mereka hilang begitu saja tanpa ada tindakan yang tegas dari pemerintah.

Padahal, yang mereka butuhkan adalah keadilan. Namun memang keadilan di negeri ini masih sangat mahal harganya.

Kasus Pelanggaran HAM Indonesia

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyebutkan masih banyak kasus HAM yang tak terselesaikan sampai saat ini. Pemimpin Negeri sudah berganti berkali kali, namun tak ada satupun yang berhasil menuntaskan kasus pelanggaran HAM ini.

Sepanjang sejarah, inilah kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang paling banyak menyita perhatian.

  1. Tragedi Penumpasan PKI

Pada tahun 1965 – 1966, bangsa Indonesia mengalami mimpi buruk dengan adanya kejadian paling keji yang memakan banyak korban. Pada tanggal 30 September 1965, sejumlah jenderal dihabisi nyawanya dengan cara yang keji. Oleh karena kejadian ini pemerintah melakukan operasi pembersihan.

PKI. Dalam operasi itu sekitar 500.000 hingga 3 juta nyawa hilang. Ribuan orang diasingkan dan jutaan orang hidup dalam ketakutan dituduh menjadi antek antek “PKI”.

Kasus ini sudah dibawa ke jalur hukum, namun kejaksaan Agung menghentikan kasus ini dan mengembalikan berkas ke KOMNAS HAM karena alsasan data yang tidak lengkap.

  1. Petrus

Pelanggaran HAM selanjutnya berlangsung dari tahun 1982 – 1985. Kasus ini merupakan tindakan penembakan misterius atau operasi clurit. Operasi ini merupakan operasi rahasia yang dilakukan pada era kepemimpinan Soeharto.

Korban dari Petrus ialah orang orang yang dianggap melawan pemerintah, menganggu keamanan dan ketentraman. Nyawa yang terenggut dari operasi ini berjumlah lebih dari 500 orang dan pelaku pembunuhan mereka tidak pernah dan tidak pernah diadili sampai saat ini.

  1. Tragedi semanggi

Pada tahun 1997 hingga 1998, krisis ekonomi besar besaran menyerang Asia dan Indonesia terkena dampaknya. Para mahasiswa bersama sama melakukan aksi besar besaran.

Puncaknya pada tanggal 13-15 mei 1998 hampir diseluruh pelosok negeri teradi kerusuhan, terutama di Jakarta. Sebelumnya, pada tanggal 12 Mei 1998 4 Mahasiswa trisakti tertembak oleh apparat. Sayangnya, kasus ini tidak selesai hingga saat ini. Para lembaga yudikatif negeri saling lempar tangan untuk mengatasi kasus ini.

  1. Kasus Munir

Menjadi penegak keadilan HAM tidaklah mudah, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Hal ini dialami oleh seorang aktivis bernama Munir. Munir ditemukan meninggal dalam pesawat ketika hendak berangkat ke Amsetrdam. Saat itu Munir adalah memangku jabatan sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau HAM Imparsial.

Lihat Juga  : Perjalanan Kasus Novel Baswedan yang Masih Belum Tuntas

Dalam kasus ini ditetapkan seorang Pilot Garuda, Pollycarpus sebagai tersangka dan dihukum selama 14 tahun. Namun pada 2018 lalu, Pollycarpus ditetapkan bebas bersyarat.

  1. Kasus Marsinah

Kasus terakhir yang menyita perhatian ialah kasus pembunuhan Marsinah. Marsinah adalah seorang yang vokal dalam menyuarakan nasib dan kesejahteraan buruh. Marsinah ditemukan tewas pada tanggal 8 Mei 1993 di hutan. Sebelumnya, pada tanggal 3-4 Mei, Marsinah dan rekan rekannya menjadi perwakilan buruh untuk bertemu PT CPS. Namun, pada tanggal 6 Mei tiba tiba Marsinah menghilang.

Rekayasa pembunuhan Marsinah merupakan pelanggaran HAM berat, disekujur tubuh Marsinah ditemukan bekas pukulan benda tajam dan tubuhnya tersimpah darah.

Sampai saat ini para keluarga korban terus mencari keadilan atas meninggalnya orang orang tersayang mereka akibat perbuatan keji manusia lain. Sudah 12 tahun, para keluarga korban pelanggaran HAM melakukan aksi kamisan di depan istana presiden. Dalam ratusan kali aksi yang diselenggarakan mereka hanya diterima satu kali oleh pihak Istana.

Para keluarga dan relawan tidak akan berhenti sampai mereka mendapatkan keadilan untuk para korban yang jatuh

Author: admin